Tuesday, 28 February 2006
Kiat Belanja Produk Halal dan Thoyyib
@ Cermati Label Kemasan Produk yang Anda Beli @
Seiring berkembangnya teknologi dan tuntutan keprak-tisan, berbagai pangan yang siap dan cepat saji hadir di meja makan kita, mie instan, bumbu instan, sayur instan adalah beberapa contohnya. Hal ini diringi dengan tuntutan penye-diaan nilai nutrisi yang baik dan cukup juga jaminan kualitas bagi kesehatan. Tetapi bagi konsumen muslim khususnya, yaitu jaminan kehalalan, sebagaimana tercantum dalam Al Quran surat Al-Maidah ayat 88: “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari Allah yang telah direzekikan kepa-damu, dan bertaqwalah kepada Allah Yang kamu beriman kepada-Nya”. Perintah ini sungguh mempunyai arti yang mendalam hingga di barat muncul istilah yang sangat terkenal Tell me what you eat, I’ ll tell you what you are yang berarti bahwa sikap, kepribadian tingkah
laku hingga kesehatan sese-orang dipengaruhi oleh apa yang ia konsumsi.
Secara umum, para konsumen khususnya muslim tidak mengetahui metode penyiapan, proses produksi, pengawetan dan pengemasan produk-produk pangan yang dikonsumsinya, sehingga pemilihan produk atas dasar kehalaalan dan
ketho-yyiban merupakan hal yang cukup sulit untuk dilakukan, kecu-ali dengan melihat label halal yang ada pada kemasan.
Tetapi, kini konsumen harus lebih hati-hati, karena ba-nyak kemasan yang mencantumkan label halal tetapi belum tentu halal. Di Indonesia terdapat lebih dari 1.060.000 peru-sahaan baik besar, menengah, kecil dan rumah tangga yang tersebar di seluruh nusantara, sehingga pemantauan pemberian label khususnya label halal bukan hal mudah untuk dilakukan oleh pemerintah atau departemen yang ditunjuk. Kondisi ini sering kali dimanfaatkan oleh produsen makanan maupun minuman yang kurang bertanggung jawab terhadap hak-hak konsumen atas jaminan kehalalan dan kualitas produk yang mereka jual. Oleh karena itu, perlu kiranya, para konsumen khususnya konsumen muslim membekali diri dengan pengeta-huan yang cukup atas produk yang akan dibeli.
Salah satu cara untuk mengetahui kehalalan dan ketho-yyiban produk yang akan dibeli adalah dengan mencermati informasi yang tersedia pada label kemasan produk. Ada baiknya terlebih dahulu konsumen mengetahui apa itu label kemasan, informasi-informasi yang tersedia pada label dan bagaimana cara mencermati label kemasan.
Apa Itu Label ?
Label adalah tulisan yang tercetak pada kemasan yang berisi informasi singkat tentang produk yang dikemas. Secara umum label terdiri dari nama produk, komposisi ingredien (bahan penyusun) produk, nama dan alamat produsen atau importir, lot dan tanggal produksi, batas kadaluarsa, dan berat bersih. Informasi nilai gizi, dan cara penyajian untuk beberapa produk tertentu juga sering dicantumkan.
Apa Isi Label Kemasan ?
Secara rinci isi dari label adalah sebagai berikut:
 Daftar ingredien
Produk pangan dibentuk dari kumpulan satu atau lebih bahan penyusun. Penyebutan urutan pada daftar ingredient menunjukkan jumlah kandungan bahan tersebut, yang terletak pada urutan pertama adalah komponen yang jumlahnya paling besar.
 Standardized food
Beberapa produk, terutama produk-produk impor, seperti selai, jelly, kecap atau saus, mayonaise dan beberapa lainnya sering disebut sebagai standarized food, khususnya produk yang telah sesuai dengan standar Food and Drugs Association (FDA), yaitu sebuah lembaga pengawasan obat-obatan dan pangan di USA yang mirip Badan POM di Indonesia. Beberapa produsen yang bertanggung jawab biasanya akan men-cantumkan pernyataan khusus jika produk ini berisi ingredien yang harus dihindari (haram) dengan menggunakan simbol berupa gambar babi atau istilah pork.
 Nutritional Claim
Beberapa produk seperti susu, minyak goreng biskuit dan beberapa lainnya sering mencantumkan nutritional claim. Beberapa nutritional claim yang sering digunakan antara lain adalah:
Kalori, dibagi menjadi 3 bagian, rendah kalori (low calorie), reduced dalorie, dan sugar free/sugarless/no sugar. Low calorie adalah produk yang berisi 0,4 kalori atau kurang per gram produk atau per penyajian. Reduced Calorie adalah pro-duk yang mengandung kalori yang telah dikurangi hingga 1/3 bagian dari jumlah semula. Sugarless adalah produk selain kedua kelompok sebelumnya yang biasanya disertai dengan pernyataan seperti “ tidak menyebabkan kerusakan gigi “.
Garam, dibagi menjadi 5 kelompok, low (rendah), very low (sangat rendah), reduced (dikurangi), Salt Free (bebas garam) dan dietary supplement (suplemen). Low adalah produk yang mengandung 140 mg garam per penyajian. Very low adalah produk yang mengandung 35 miligram garam perpenyajian. Reduced adalah produk yang mengandung garam 1/3 bagian dari jumlah garam awal produk.
 Code Dating
Merupakan informasi mengenai kapan dan dimana produk diproduksi. Biasanya code dating ada pada kemasan produk-produk yang memiliki umur simpan cukup lama. Code dating memudahkan produsen untuk menarik kembali
produk dari pasaran.
 Universal Product Code (UPC)
Merupakan sebuah blok kecil terdiri dari garis-garis pararel dengan ukuran luas yang berbeda-beda disertai nomor dan huruf tertentu. UPC ditetapkan secara nasional dan ber-sifat khas atau unik untuk tiap jenis produk. UPC bermanfaat untuk pengecekan dan penyimpanan dengan komputerisasi.
 Tanggal Kadaluwarsa (expired date)
Menurut UU No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsu-men dan PP No 69 tentang Label dan Iklan Pangan, pencan-tuman tanggal kadaluwarsa menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan pada label pangan. Tetapi tidak
semua makanan dan minuman wajib mencantumkan batas kadaluwarsa ini. Menurut Permenkes No. 180/1985 dan Sk Ditjen POM No 2591 Tahun 19991 produk-produk yang wajib mencantumkan batas kadaluawarsa adalah :
Susu yang dipasteurisasi, susu steril, susu fermentasi dan susu bubuk, makanan dan minuman yang mengandung susu, ma-kanan bayi dan makanan kaleng steril komersial, roti, bis-kuit dan sejenisnya, makanan rendah kalori, makanan penam-bah zat gizi, coklat dan produknya, kelapa dan hasil olahan-nya, minyak dan lemak, margarin, mentega kacang, produk telur, saos, minuman ringan tidak berkarbonat dan sari buah.
Beberapa produk yang tidak mencantumkan batas kadalu-awarsa adalah minuman beralkohol, anggur, gula, cuka, MSG, buah dan sayur serta kue dan pangan yang habis dikonsumsi dalam 24 jam. Dalam penjelasan pasal 21 UU
23/1992 tentang Kesehatan, dinyatakan bahwa tanggal, bulan dan tahun kada-luawarsa tidak berlaku untuk makanan dan minuman yang tidak mempunyai batas waktu penggunaan.
 Simbol
Pada kemasan sering dijumpai gambar-gambar tertentu yang mengandung arti. Beberapa simbol yang umum ada pada kemasan antara lain adalah :
a. Registered Trade Mark, simbol ini berupa huruf R dalam sebuah lingkaran yang menunjukkan bahwa merek da-gang tersebut terdaftar di kantor paten negara asal produk.
b. Copy Right, merupakan simbol yang berupa huruf C dalam lingkaran yang menunjukkan bahwa huruf dan deko-ratif yang terdapat pada label terdaftar di kantor paten dan dilindungi dari pembajakan.
c. Label halal, umumnya ditandai oleh tulisan arab yang berbunyi Halaal dalam elips, tetapi sampai sekarang di Indonesia belum ada standar label halal sehingga bebe-rapa produk yang menggunakan label halal ada yang
belum mendapatkan sertifikat halal dari pihak yang ber-wenang.
d. Kosher, label ini perlu diperhatikan untuk produk produk yang berasal dari luar negeri atau lebih dikenal dengan produk impor. Simbol kosher ini hampir mirip seperti label halal yang menunjukkan apakah produk tersebut boleh dikonsumsi atau tidak oleh para pemeluk agama Yahudi. Menurut LP POM MUI, produk-produk impor yang menggunakan label kosher boleh dikonsumsi jika telah mendapatkan sertifikat halal, karena banyak produk seperti produk turunan anggur, turunan babi yang mendapat label kosher tetapi tidak halal bagi konsumen muslim.
Cara Mencermati Ingredient dalam Label Kemasan Agar terhindar dari penipuan poduk dan jatuh kepada sesuatu yang haram atau subhat dan tidak baik untuk kesehatan, ada 3 hal yang dapat dilakukan, diantaranya dengan:
 Perhatikan ada atau tidaknya kata vegetable atau “nabati” pada pernyataan ingredient, seperti minyak nabati, mono atau digliserida nabati atau vegetable mono atau digli-seride. Untuk produk-produk yang menggunakan gelatin (biasanya produk-produk yang bersifat kenyal) perhatikan ada tidaknya penjelasan jenis gelatin yang digunakan.
 Perhatikan simbol halal atau simbol kosher yang diguna-kan (untuk produk-produk impor). Untuk produk dalam negeri yang mencantumkan label halal dan telah menda-pat nomor MD dari Depkes dapat dipastikan telah
diserti-fikasi oleh LP POM MUI. Untuk produk yang baru men-dapat nomor SP dan produk-produk impor konsumen harus hati-hati terhadap kehalalannya.
 Hubungi layanan informasi yang disediakan oleh produ-sen untuk menanyakan hal-hal yang meragukan atau kurang dimengerti.
Penulis:
Santi Rukminita A
Ketua Yayasan Halaalan Thoyyiban
15:20 Posted in Tips | Permalink | Email this
Monday, 27 February 2006
Santun
"Cita-cita itu bila benar akan menghasilkan hal yang terbaik, jika tidak terealisasi maka paling tidak kita telah menghabiskan sebagian dari usia yang indah dengannya"
Sikap santun tak ubahnya bagaikan keahlian jenis yang canggih dalam menundukkan kuda yang binal. Dengan berbekal ini, seseorang dapat mengalahkan emosi, ketololan dan hawa nafsu dirinya. Adapun sikap hati-hati artinya sama dengan teliti dan tidak tergesa-gesa serta menangani sesuatu dengan pemikiran dan kebijakan. Kedua pekerti ini adalah senjata yang dapat memerangi kecemasan. Barang siapa yang tidak memiliki keduanya, maka ia akan mengalami banyak kehilangan kebaikan dan terancam oleh kecemasan.
Sesungguhnya orang yang santun, dengan sikap santunnya ia dapat menolak banyak kejahatan. berbeda dengan orang yang tolol lagi emosional, maka sesungguhnya ia akan menjadikan kejahatan makin bertambah besar dan dorongan yang menimbulkan kecemasan makin bertambah kuat akarnya. Seseorang yang bersikap hati-hati jarang menyesal atau jarang melakukan urusan yang kesudahannya penuh dengan kemisterian. Berbeda halnya dengan orang yang tolol lagi tergesa-gesa, maka sesungguhnya penyesalan, kecemasan dan kesudahan yang buruk akan selalu menemaninya. Seorang manusia yang mengasihani dirinya dan diri orang lain adalah orang yang pandai membiasakan dirinya bersikap tenang dan berhati lapang.
Agama kita mengajarkan untuk bersikap lembut, penyantun dan perlahan-lahan (hati-hati).
"sesungguhnya kita sering menyia-nyiakan saat-saat yang membahagiakan dalam kehidupan kita ini untuk hal-hal yang tidak ada artinya"
08:09 Posted in Renungan | Permalink | Email this
Saturday, 25 February 2006
Pancasila
Pancasila (Batak Toba)
1. Dang adong na pajago-jagohon di jolo ni Debata
2. Maradat tu sude jolma
3. Punguan ni halak Indonesia
4. Marbadai ... marbadai, dungi mardame
5. Godang pe habis saotik pe sukkup
Pancasila (Jawa Ngoko)
siji: Gusti Alllah ora ono koncone
loro: Dadi wong ojo kejem-kejem
telu: Indonesia bersatu kabeh
papat: karo tonggo-tonggo nek ono masalah diomongno bareng-bareng
limo: mangan ga mangan sing penting kumpul
Poncosilo (jawa kromo)
kaping setunggal: Gusti ingkang Maha satunggal
Kaping kalih: Tiang ingkang Adil lan beradab
kaping tiga: persetunggalan Indonesia
kaping sekawan: Kerakyatan ingkang dipimpin kaliyan hikmat lan kewicaksonoan dateng permusyawaratan kang diwakilkan.
kaping gangsal: Adil kang sosial kangge sakabehe tiang Indonesia
Pancasila (Sunda)
hiji: Gusti Allah nu ageng pisan
dua: ka sorangan teh sikapna kudu sami, ulah di beda-beda keun
tilu: Indonesia kuduna mah jadi hiji
Opat: Rakyat Indonesia saena pang mutuskeun sesuatu teh disepakat keun
heula. Biar bager lan bijaksana
Lima: Ceunah teh sikap sosialna kudu adil hiji sareng lainna.
Pancasila(Palembang)
sute: Tuhan ne sute tu'la
due: jelme harus khapat same rate
tige: jelme Indonesia ne bersatu padu
empat: jeleme Indonesia ne diketuci ngai hikmah dimane ngedapatkan jawaban dadi gegale masalah
Leme: kesameratean hidup ne jelmekangok Indonesia...
Pancasila (Manado)
1. Cuma boleh ba satu Tuhan
2. Selalu adil kong ja pake ontak
3. Torang samua satu, Bangsa Indonesia
4. Tu rakyat musti selalu bakumpul kong bicara bae-2 supaya selalu ada kaputusan gagah yang semua trima deng sanang hati.
5. voor seluruh rakyat Indonesia, nyanda ada tu jabaku kase beda-2 perlakuan...
Pancasilo (Padang)
ciek: Bintang Basagi Limo
duo: Rantai pangikek kudo
tigo: pohon baringin gadang tampek kito bacinto
ampek: kapalo banteng angek garang
limo: padi jo kapeh tampek kito mancari sasuok nasi
11:43 Posted in Refreshing | Permalink | Email this
Thursday, 23 February 2006
Belajar Dari Wajah
Oleh: K.H. Abdullah Gymnastiar
(Sumber : www.eramuslim.net)
Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.
Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : "Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?" karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah istri, suami, anak,
tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah.
Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang
menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.
Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang
ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.
Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka caru tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus,
sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.
Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.
Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.
Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar
kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.
Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.
Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri,
kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.
Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!
Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallaah.***
09:20 Posted in Renungan | Permalink | Email this
Wednesday, 22 February 2006
Kejujuran 1
Alangkah bagusnya ungkapan yang menggambarkan tentang kejujuran, sebagaimana bait berikut:
*Kejujuran adalah satu keharusan atasmu Walaupun dirimu terbakar oleh panasnya janji
Carilah olehmu keridhaan al-Maula Celakalah orang yang membuat murka Allah dan mencari ridho manusia*
*Renungan Pertama (Tentang Definisi)*
Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana dengan fakta. Di antaranya yaitu kata *"rajulun shaduq (sangat jujur)", *yang lebih mendalam maknanya daripada *shadiq* (jujur). *Al-mushaddiq* yakni orang yang membenarkan setiap ucapanmu, sedang *ash-shiddiq* ialah orang yang terus menerus membenar-kan ucapan orang, dan bisa juga orang yang selalu membuktikan ucapannya dengan perbuatan. Di dalam al-Qur'an disebutkan (tentang ibu Nabi Isa), *"Dan ibunya adalah seorang"shiddiqah." *(Al-Maidah: 75). Maksudnya ialah orang yang selalu berbuat jujur. (*Lisanul Arab 10/193-194*)
Kejujuran merupakan simbol Islam dan neraca keimanan, pondasi agama, dan menjadi tanda kesempurnaan orang yang memiliki sifat ini. Ia menempati kedudukan yang tinggi di dalam agama dan dalam urusan dunia. Dengan
kejujuran akan terpilah orang yang beriman dan orang munafik, terpilih penghuni surga dari penduduk neraka. Dengannya seorang hamba akan dapat meraih kedudukan *al-Abrar* (orang baik), dan dengannya akan men-dapatkan keselamatan dari api neraka.
Nabi *shallallahu 'alaihi wasallam* disifati dengan *ash-shadiqul amin (jujur dan terpercaya) *, dan sifat ini telah diketahui oleh orang Quraisy sebelum beliau diutus menjadi rasul. Demikian pula Nabi Yusuf *'alaihis salam* juga disifati dengannya, sebagaimana firman Allah *subhanahu wata'ala *, *(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru),"Yusuf, hai orang yang amat dipercaya." *(QS.Yusuf:46)
Khalifah Abu Bakar *radhiyallahu 'anhu* juga mendapatkan julukan ini (ash-shiddiq). Ini semua menunjukkan hawa kejujuran merupakan salah satu perilaku kehidupan terpenting para rasul dan pengikut mereka. Dan kedudukan
tertinggi sifat jujur adalah *"ash-shiddiqiyah"* Yakni tunduk terhadap rasul secara utuh (lahir batin) dan diiringi keikhlasan secara sempurna kepada Pengutus-Nya (Allah *subhanahu wata'ala*).
Imam Ibnu Katsir berkata, "Jujur merupakan karakter yang sangat terpuji, oleh karena itu sebagian besar shahabat tidak pernah coba-coba melakukan kedustaan baik pada masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam. Kejujuran
merupakan ciri keimanan, sebagaimana pula dusta adalah ciri kemunafikan, maka barang siapa jujur dia akan beruntung. (Tafsir Ibnu Katsir 3/643)
*Renungan ke Dua (Al-Qur'an dan Kejujuran)*
Al-Qur'an menyebutkan sifat jujur dalam banyak ayat serta menganjurkan kepada kejujuran, dan bahwa ia merupakan buah dari ikhlas dan takwa. Di antara ayat-ayat tersebut adalah:
1. Firman Allah *subhanahu wata'ala* artinya, *"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." *(QS. At-Taubah:119)
Maksudnya ialah; "Jadilah kalian semua bersama dengan orang-orang yang jujur dalam ucapan mereka, dalam perbuatan dan segala keadaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang yang ucapannya jujur, perbuatannya dan keadaannya tiada lain kecuali kejujuran semata, bebas dari kemalasan, kebosanan, selamat dari tujuan-tujuan yang buruk, dan selalu memuat keikhlasan dan niat yang baik. (*Tafsir Ibnu Sa'di hal 355*)
2. Firman Allah *subhanahu wata'ala* artinya, *"Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya." *(QS. al-Ahzab:24)
Yakni mereka memperoleh semua itu dengan sebab kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan dan interaksi mereka dengan Allah *subhanahu wata'ala*, serta kesesuaian mereka antara lahir dengan batinnya.( *Tafsir Ibnu Sa'di
hal 661*)
3. Firman Allah *subhanahu wata'ala* artinya, *"Allah berfirman, "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." *(QS.al-Maidah:119)
Kejujuran mereka ketika di dunia akan memberikan manfaat kepada mereka di hari Kiamat. Dan tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat serta tidak ada yang menyelamatkannya dari adzab Allah kecuali kejujuran.
4. Firman Allah *subhanahu wata'ala* artinya, *"Dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi (qadama shidqin) di sisi Rabb mereka." *(QS.Yunus:2)
Maksudnya yaitu keimanan yang benar (jujur), bahwasannya mereka kelak akan mendapatkan *"qadama shidqin"* yakni balasan yang tak terhingga, pahala yang amat banyak di sisi Rabb mereka dengan sebab apa yang dulu pernah mereka lakukan berupa amal shalih dan kebenaran (jujur). (*Tafsir Ibnu Sa'di hal 661*)
Ibnu Abbas z berkata, *"Qadama shiqin"* maknanya adalah *rumah kejujuran (di surga, red)," *dan diriwayatkan darinya juga, *"Pahala yang baik karena perbuatan mereka dahulu (di dunia) yang baik." (Al-Jami' Liahkamil Qur'an
8/306) *
5. Firman Allah *subhanahu wata'ala* artinya, *"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa." *(QS. Az-Zumar:33)
Imam Ibnul Qayyim *rahimahullah* berkata, "Kejujuran saja belum cukup bagimu, bahkan merupakan keharusan untuk membenarkan (mempercayai) orang-orang yang jujur. Amat banyak manusia yang jujur namun dia menolak
untuk membenarkan (mempercayai) orang lain yang jujur, entah karena sombong atau karena hasad atau selain keduanya." (*Madarij as-Salikin 1/306*)
6. Allah *subhanahu wata'ala* menyifati Diri-Nya dengan kejujuran dan kebenaran, sebagaimana firman-Nya artinya, *"Katakanlah, "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah".* (QS. Ali Imran:95). Dan juga firman-Nya, *"Dan
siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah." *(QS. An-Nisa':87)
7. Allah *subhanahu wata'ala* menyebutkan tentang *"qadama shidqin", "lisana shidiqin", "maq'ada shidqin" dan juga "mudkhala/mukhrajashidqin".* Penjelasannya adalah sebagai berikut,
1. Firman Allah *subhanahu wata'ala* artinya, *"Dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi (qadama shidqin) di sisi Rabb mereka".* (QS.Yunus:2)
Ibnu Abbas berkata *radhiyallahu 'anhu* (sebagai-mana tersebut di atas), *"Makna qadama shidqin ialah rumah kejujuran, disebabkan oleh perbuatan mereka yang telah lalu (di dunia)." *
2. Firman Allah *subhanahu wata'ala* artinya, *"Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi (lisana shidqin)." *(QS. Maryam:50)
Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas i]radhiyallahu 'anhu, bahwa makna firman Allah *"lisana shidqin"* adalah pujian-pujian yang baik.
3. Firman Allah *subhanahu wata'ala* artinya, *"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi (maq'adi shidqin) di sisi (Rabb) Yang Maha Berkuasa." *(QS.54:54-55)
Makna *"maq'adi shidqin"* yaitu majlis (tempat duduk) yang haq yang tidak ada kesia-siaan dan ucapan kotor di dalamnya yakni surga. (*Al-Jami'liahkam Al-Qur'an 17/150*)
4. Firman Allah *subhanahu wata'ala* artinya, *"Dan katakanlah, "Ya Rabb-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar." *(QS. Al-Israa': 80)
Artinya adalah "Jadikan permulaan (mulai) dan pengakhiran (selesai) dari segala sesuatu adalah dalam rangka ketaatan kepada-Mu, dan dalam keridhaan-Mu." Ini disebabkan karena memuat keikhlasan dan kesesuaian dengan
apa yang diperintahkan. (*Tafsir Ibnu Sa'di hal 465*)
Imam Ibnul Qayyim berkata, "Kelima macam ini (yang tersebut di atas, red) merupakan hakikat kejujuran, yaitu kebenaran yang berkesinambungan, terhubung dengan Allah subhanahu wata'ala dan sampai kepada-Nya, yaitu
segala sesuatu yang sesuai dengan perintah Allah dan dilakukan karena-Nya berupa ucapan dan perbuatan." Maka balasan dari semua itu di dunia dan di akhirat adalah (taufik untuk) masuk (mulai) perbuatan dengan benar dan
keluar (selesai) darinya dengan benar, yaitu dari awal hingga akhirnya adalah haq, eksist, dan dengan petunjuk Allah serta dalam rangka mencari keridhaan-Nya. (*Madarij as-Salikin 2/270). Wallahu a'lam. *
Sumber: Majalah *"Al Jundi Al Muslim" *No.121 Ramadhan 1420, oleh Syaikh Sulthan Fuad Al-Thubaisyi. bagian ke 1 dari 4 edisi.
14:35 Posted in Renungan | Permalink | Email this
Saturday, 11 February 2006
Kisah Sepotong Kue
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk.Sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya , ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka.Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam.Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu.
Wanita itupun sempat berpikir: "Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!“.
Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa
yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir : “Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih”. Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan.
Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih". Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget. Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya !!!
Koq milikku ada disini erangnya dengan patah hati.
Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih.Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih. Dan dialah pencuri kue itu !
Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.
Orang lainlah yang selalu salah
Orang lainlah yang patut disingkirkan
Orang lainlah yang tak tahu diri
Orang lainlah yang berdosa
Orang lainlah yang selalu bikin masalah
Orang lainlah yang pantas diberi pelajaran
Padahal : Kita sendiri yang mencuri kue tadi
Kita sendiri yang tidak tahu terima kasih.
Kita sering mempengaruhi, mengomentari , mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain .
Sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.
10:47 Posted in Renungan | Permalink | Email this
Friday, 10 February 2006
Apa Yang Kita Sombongkan
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari.
Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu
mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.
Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.
Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu
menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.
Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.
Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?
15:26 Posted in Renungan | Permalink | Email this
Thursday, 09 February 2006
Universitas Terbaik versi Politik....
1. Yang paling banyak
Universitas Indonesia sebagai universitas yang paling banyak memproduksi mentri, dari zaman orla, orba, reformasi until now. Akan tetapi sebagai penyumbang mentri saja karena sampai saat ini belum ada yang berhasil menjadi RI 1, dalam arti kata UI hanya spesialis mentri
2. Yang Paling Produktif
Ternyata ITB adalah perguruan tinggi yang paling produktif karena sampai saat ini sudah mampu menelorkan 2 presiden yakni Soekarno dan Habibie
3. Yang Paling Sial
UGM adalah kategori yang paling sial, salah satu alumninya, sudah S3, professor (Amien Rais) dan selama 5 tahun "magang" di MPR untuk mempersiapkan diri jadi presiden dan didukung organisasi massa pula... eh ternyata gagal total untuk menjadi presiden
4. Jagonya Strategi
IPB, ternyata adalah yang paling jago dalam hal strategi, karena tau persis kapan bertindak....persis disaat saat injury time karena pada H-2 sebelum pencoblosan...memberikan gelar doctor (S3) untuk calonnya SBY dan ternyata sukses menjadi presiden....sehingga punya 1 presiden..
5. Paling Hebat
Tapi ITB dan IPB jangan sombong dahulu, karena butuh waktu yang lama untuk mendidik alumninya sampai S3 bahkan professor segala untuk menjadi presiden...Yang paling hebat adalah UNPAD, karena cukup mahasiswa "drop out" fakultas pertaniannya untuk jadi presiden (Megawati)
18:15 Posted in Refreshing | Permalink | Email this
Thursday, 02 February 2006
Bertengkar Dengan Indah
1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah
Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama'ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika
seorang marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran saya ! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : "kamu makin cantik kalau marah,makin energik ..."
Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi... "duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ...."
Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka", saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :)
Maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama'ah selain marah :)
2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa (maksudnya masa lalu kita)
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.
Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang keras". Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu,awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.
Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah,maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi". Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat,plus tuduhan "Sudah tidak suka lagi ya dengan saya", maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.
Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah ... OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini .....
3. Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga
Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba.
Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal cinta yang panas ini".
Kata ayah saya : "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak". Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma'afnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..". Dunia sudah
diambang pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!
4. Kalau marah jangan di depan anak-anak
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu 'kan bapak saya. Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
* Ibu : "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!"
* Bapak : "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu,
saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!!
* Anak : "...... Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus saya ini apa ?"
Kita harus berani berkata : "Hentikan pertengkaran !" ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata bahasa hati kita ???
5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat
Pada setiap tahiyyat kita berkata : "Assalaa-mu 'alaynaa wa 'alaa'ibaadilahissholiihiin" Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yg sholeh ....
Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal nyawamu ditangan Nya.
OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi .... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya ... Atau habis isya sebatas....??? Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar ... :)
6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema'afkan
Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah "proses belajar untuk mencintai lebih intens" Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.
Ini saja, semoga bermanfa'at, "Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi".
*Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar tapi bodoh*
10:29 Posted in Renungan | Permalink | Email this
Wednesday, 01 February 2006
Ciri Orang Berfikir Positif
- Melihat masalah sebagai tantangan
Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia. - Menikmati hidupnya
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik. - Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide
Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik. - Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak Memelihara' pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.
- Mensyukuri apa yang dimilikinya
Dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya. - Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu
Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif. - Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan
Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya. - Menggunakan bahasa positif
Maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti "Masalah itu pasti akan terselesaikan," dan "Dia memang berbakat." - Menggunakan bahasa tubuh yang positif
Di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan 'hidup'. - Peduli pada citra diri
Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam.
11:52 Posted in Renungan | Permalink | Email this

