Saturday, 01 April 2006
Syi'ah
From: Dede Farhan A
MUQADDIMAH
Semenjak kematian Imam mereka, Syi'ah mengalami perkembangan dan perpecahan. Dan semakin jauh perpecahan mereka, semakin banyak pula ajaran dan paham baru. Dimana tidak jarang ajaran Syi'ah dalam satu periode bertentangan dengan ajaran mereka pada periode sebelumnya. Karena setiap Imam memberikan ajaran, dimana perkataan Imam bagi Syi'ah adalah hadits, sama dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam. Bahkan ada yang beranggapan bahwa perkataan Imam sama dengan firman Allah. Namun yang kita bicarakan dalam kapasitas ini adalah kelompok Syi'ah yang percaya kepada dua belas Imam (Syi'ah Imamiyah Al-Itsna 'Asyariyah) dan sekte inilah yang masuk dan berkembang di Indonesia.
Namun kemungkinan orang-orang Syi'ah di sekitar anda akan mengingkari tulisan ini sambil berkata: "Syi'ah tidak seperti ini!" Tetapi tidak selayaknyalah mereka mengingkari perkataan-perkataan ulama-ulama besar
mereka, Karena bahan bacaan yang kami gunakan dalam penyusunan risalah ini menggunakan kitab-kitab pokok Syi'ah yang ditulis oleh ulama-ulama besar Syi'ah sebagai referensi.
PEMBAHASAN
Abdullah bin Saba' adalah seorang pendeta Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam pada akhir kekhalifahan 'Utsman radiallahu 'anhu. Dialah orang yang pertama mengisukan bahwa yang berhak menjadi khalifah setelah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah Ali Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Tetapi pada abad ke-14, dimunculkanlah isu bahwa Abdullah bin Saba' itu adalah manusia bayangan. Mungkin didorong oleh rasa tidak enak, karena timbul imajinasi bahwa ajaran Syi'ah itu berasal dari Yahudi. Tetapi itu
merupakan fakta sejarah yang telah dibakukan, diakui oleh ulama-ulama Syi'ah pada jaman dahulu hingga sekarang.
Sungguh keliru orang yang mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara Sunni dan Syi'ah, kecuali sebagaimana perbedaan yang terjadi antara madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali) dan masalah-masalah furu'iyah ijtihadiyyah!
Ketahuilah bahwa Syi'ah adalah agama di luar Islam. Perbedaan antara kita kaum Muslimin dengan Syi'ah sebagaimana berbedanya dua agama dari awal sampai akhir yang tidak mungkin disatukan, kecuali salah satunya meninggalkan agamanya.
Agar para pembaca mengetahui bashirah (yakni hujjah yang kuat dan terang naqliyyun dan aqliyyun) bahwa Syi'ah adalah dien/agama, maka di bawah ini kami tuliskan sebagian dari aqidah Syi'ah yang tidak seorang Muslim pun
meyakini salah satunya melainkan dia telah keluar dari Islam.
1. Mereka mengatakan bahwa Allah Ta'ala tidak mengetahui bagian tertentu sebelum terjadi. Dan mereka sifatkan Allah Ta'ala dengan al-Bada' yakni Allah Subhanahu wa Ta'ala baru mengetahui sesuatu setelah terjadi.
2. Tahriful Qur'an (Perubahan Al-Qur'an). Yakni mereka mengi'tiqadkan telah terjadi perubahan besar-besaran di dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat dan surat-suratnya telah dikurangi atau ditambah oleh para shahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam di bawah pimpinan tiga khalifah yang merampas hak ahlul bait, yaitu Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman radhiallahu 'anhum ajmain. Salah satu ayat yang dibuang menurut versi Syi'ah adalah ayat wilayah (kedudukan) yang terdiri dari tujuh ayat. Kami tuliskan ayat ketujuhnya: "Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan Ali termasuk orang-orang yang menjadi saksi."
3. Mereka juga mengatakan bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan kaum Muslimin dari zaman shahabat sampai hari ini tidak asli lagi. Kecuali Al-Qur'an mereka yang tiga kali lebih besar dari Kitabullah yang mereka namakan
mushaf Fatimah yang akan dibawa oleh Imam Mahdi. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman (yang rjemahannya): "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami-lah yang benar-benar memelihara/menjaganya." (Al-Hijr: 9)."
"(Al-Qur'an) yang tidak datang padanya kebathilan baik dari depan maupun belakangnya, yang diturunkan ALLAH Yang Maha Bijaksana (lagi) Maha Terpuji." (Fush-shilat : 42).
Alangkah besarnya dusta dan penghinaan mereka terhadap Al-Qur'an. Allah Subhanahu wa Ta'ala tegaskan bahwa Al-Qur'an di dalam pemeliharaan-Nya dan tidak akan kemasukan satupun yang bathil dari segala jurusan. Akan
tetapi mereka mengatakan bahwa Al-Qur'an telah diubah oleh tangan-tangan manusia, yaitu para shahabat.
4. Mengadakan penyembahan terhadap manusia. Mereka bersikap berlebih-lebihan terhadap imam-imam mereka, sehingga mereka tinggikan sampai kepada derajat uluhiyyah (ketuhanan). Untuk itu, mereka telah berbohong atas nama shahabat besar ahlul jannah, Ali bin Abi Thalib bersama istrinya (Fatimah puteri Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam) dan kedua orang anaknya (Hasan dan Hushain) dan seluruh ahlul bait. Lihatlah kepada sebagian perkataan ulama mereka tentang Ali bin Abi Thalib yang kata mereka -secara dusta- telah mengatakan:
"Demi Allah. Sesungguhnya akulah yang bersama Ibrahim di dalam api, dan akulah yang men-jadikan api itu dingin dan selamatlah Ibrahim. Dan aku bersama Nuh di dalam bahtera (kapal), dan akulah yang meyelamatkannya dari tenggelam. Dan aku bersama Musa, lalu aku ajarkan ia Taurat. Dan akulah yang membuat Isa dapat berbicara di waktu masih bayi dan akulah yang mengajarkannya Injil. Dan aku bersama Yusuf di dalam sumur, lalu aku selamatkan ia dari tipu daya saudara-saudaranya. Dan aku bersama Sulaiman di atas permadani (terbang), dan aku-lah yang menundukkan angin untuknya)." (Dinukil dari kitab Syi'ah wa Tahrifu al-Qur'an oleh Syaikh Muhammad Malullah halaman 17, nukilan dari kitab al-Anwaaru an-Nu'maaniyyah (I/31) salah satu kitab terpenting Syi'ah).
Sekarang lihatlah apa yang dikatakan Khomeini, pemimpin besar agama Syi'ah di dalam kitabnya al-Hukuumatu al-Islamiyyah (hal. 52):
"Dan sesungguhnya yang terpenting dari madzhab kami, sesungguhya imam-imam kami mempunyai kedudukan (maqam) yang tidak bisa dicapai oleh seorang pun malaikat yang muqarrab/dekat dan tidak oleh seorangpun Nabi yang pernah diutus."
Maksudnya, imam-imam mereka itu jauh lebih tinggi dari para malaikat dan sekalian Nabi yang pernah diutus. Inilah salah satu penghinaan terbesar Khomeini kepada seluruh Malaikat dan para Nabi semuanya (termasuk Jibril
dan Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, berpegang kepada keumuman lafadz yang diucapkan Khomeini).
Sangat tidak pantas seorang pemuda Ahlus Sunnah mengidolakan orang seperti ini, bahkan sampai memajang posternya di dalam kamarnya.
Mereka pun meriwayatkan secara dusta atas nama Ali: "Dan akulah yang menghidupkan dan mematikan." (Syi'ah wa Tahrifu al Qur'an, hal 17).
Lihatlah! Bagaimana mereka samakan Ali dengan Namrud dan Fir'aun yang mengaku sebagai tuhan yang menghidupkan dan mematikan.
5. Di antara I'tiqad Syi'ah yang terpenting dan menjadi salah satu asas agama mereka adalah aqidah raj'ah, yaitu keyakinan hidup kembali di dunia ini sesudah mati, atau kebangkitan orang-orang yang telah mati di dunia.
Peristiwanya terjadi ketika Imam Mahdi mereka bangkit dan bangun dari tidur panjangnya yang sampai sekarang telah seribu tahun lebih (karena selama ini ia bersembunyi di dalam gua). Kemudian dihidupkanlah kembali seluruh imam mereka dari yang pertama sampai yang terakhir tanpa terkecuali Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam dan putri beliau Fatimah. Kemudian dihidupkan kembali pula musuh-musuh Syi'ah yang terdepan yakni Abu Bakar, Umar dan Utsman dan seluruh shahabat dan seterusnya. Mereka semua akan diadili, kemudian disiksa di depan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam karena telah mendzalimi ahlul bait, merampas imamah dan seterusnya. (Lihat kitab mereka, Haqqul Yaqin, Hal. 347).
Aqidah Raj'ah ini terang-terangan telah mendustakan isi Al-Qur'an diantaranya firman ALLAH Subhanahu wa Ta'ala (yang terjemahannya):
"Dan di hadapan mereka (orang-orang yang telah mati) ada alam kubur sampai hari mereka dibangkitkan (yakni hari kiamat)."
Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa orang yang telah mati akan hidup di alam barzakh (alam kubur) dan tidak akan hidup lagi di dunia sampai mereka dibangkitkan nanti pada hari kiamat.
6. Pengkafiran kepada seluruh shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi WaAalihi Wasallam, kecuali beberapa orang seperti Ali, Fatimah, Hasan dan Hushain. Mereka merendahkan para shahabat dengan caci maki dan laknat dalam melawan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang banyak memuji para shahabat di antaranya keridhaan Allah kepada mereka radhiallau 'anhum ajmain.
7. Taqiyyah. Berkata Mufid dalam kitabnya Tashhiih al-I'tiqaad, menerangkan pengertian taqiyah dikalangan Syi'ah: "Taqiyah adalah menyembunyikan kebenaran dan menutupi keyakinannya, serta
menyem-bunyikannya dari orang-orang yang berbeda dengan mereka dan tidak menampakkannya kepada orang lain karena dikhawatirkan akan berbahaya terhadap aqidah dan dunianya."
Ringkasnya, taqiyah adalah berdusta untuk menjaga rahasia. Hakekat Syi'ah memang terkadang sulit diketahui para pengikutnya sendiri. Itu semua dikarenakan aqidah taqiyah dan kitman (sikap menjaga rahasia) yang ada
pada mereka. Bahkan terkadang mereka berpenampilan seolah-olah mencintai Ahlus Sunnah, sehingga semua ini menjadikan orang-orang yang polos di kalangan Ahlus Sunnah tertipu dan terpedaya oleh mereka. Syi'ah mensyari'atkan dusta yang merupakan aqidah yang harus dipercayai dan bahkan masuk dalam rukun iman, sebagaimana disebut-kan dalam kitab mereka:
"Kulani menukil dari Abdullah, ia berkata: Taqwalah atas agamamu dan berhijablah dengan "taqiyah", maka sesungguhnya tidak sempurna iman seseorang apabila tidak berdusta (taqiyah). (Ushulul Kaafi hal. 483. Al
Kaafi merupakan salah satu kitab pegangan pokok mereka dalam hal aqidah dan agama Syi'ah Imamiah).
Kulaini mengatakan dari Abdullah ia berkata: Adalah Bapakku mengatakan: "Dan apakah yang dapat menenangkan pikiranku selain berdusta (taqiyah). Sesungguhnya taqiyah adalah surga bagi orang yang beriman." (Ushul Al-Kaafi hal.484).
Jagalah agama kalian dan lindungilah dengan taqiyah, sesungguhnya tidak beriman bagi siapa yang tidak bertaqiyah. (Al Kulani dalam Ushul Al-Kafi, I/218).
Rafidhah (Syi'ah) memandang wajibnya menggunakan taqiyah terhadap kaum Muslimin. Dengan taqiyah, seakan mereka menunjukkan iltizam-nya tehadap hukum Islam. Saling menolong dengan dasar cinta dan kasih sayang dengan kaum Muslimin. Padahal kenyataannya mereka berlepas diri dari kaum Muslimin. Mereka menganggap bahwa Ahlus Sunnah lebih kafir daripada orang-orang Yahudi, Majusi dan Musyrik. Mereka juga memandang bahwa mereka tidak mungkin bertemu dengan kaum Muslimin dalam masalah agama. Seperti yang dijelaskan
oleh Ni'matullah al-Jazairi, ia berkata: "Sesungguhnya kita tidak bertemu dengan mereka atas satu ilah (sembahan), tidak pula atas satu nabi dan tidak pula atas satu imam. Yang demikian itu karena mereka mengatakan bahwasanya Tuhan mereka adalah yang mengutus Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam
sebagai nabinya dan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifahnya. Sedangkan kami tidak mengatakan dengan Tuhan yang demikian itu dan tidak pula dengan nabinya. Akan tetapi yang kami katakan bahwa Tuhan yang mengangkat Abu Bakar bukanlah Tuhan kita, tidak pula nabi tersebut adalah nabi kita." (Ash-Shirath al-Mustaqim Ila Mustahqi at-Taqdim, III/73).
Oleh karena itu mereka menyelisihi kaum Muslimin dalam segala perkaranya. Menjadikan hal demikian sebagai prinsip mereka yang paling penting, dan mereka membangun agamanya atas prinsip tersebut. Seperti yang
diriwayatkan oleh ash-Shadiq dari Ali bin Absath, ia berkata: "Aku berkata kepada Radha 'Alaihissalaam : 'Aku memiliki masalah, tetapi aku tidak memperoleh pemecahannya. Sedang di negeri tersebut tidak seseorang pun ulama kita (Syi'ah). Radha menjawab: 'Datanglah kepada ahli fiqh yang ada di negeri itu, lalu mintalah fatwa berkenaan dengan masalahmu. Tapi ambillah kebalikannya. Karena, kebenaran itu ada pada kebalikan (pernyataan fatwa) tersebut." (Dikutip dari kitab mereka Al-Anwar An-Nu'maniyah II/278).
Menurut Khomeini, imannya orang Syi'ah tidak sempurna kecuali bila ia telah berbeda dengan Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Al-Hukumat al-Islamiyyah hal. 83).
Berkata Ash-Shadiq; "Ayahku berkata dalam suratnya: 'Janganlah engkau bermakmum shalat kecuali pada dua macam orang. Pertama orang yang engkau percayai agama dan kewaraannya. Kedua, orang yang engkau khawatirkan pedang, kekerasan, dan kekejiannya terhadap agama-(mu). Shalatlah di belakangnya dengan cara taqiyah dan berpura-pura." (Dikutip dari kitab mereka Man laa yahdhuruhu al-Faqiih, I/265).
Syaikh mereka Majlisi meriwayatkan dari Abi Abdillah, bahwasanya ia pernah berkata: ....... Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Diperintahkan supaya bertaqiyah....." (Kitab Syi'ah, Bihar al-Anwar, XXIV/47)
Inilah kepalsuan yang sangat besar terhadap kedudukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan terhadap keluarga-nya dan kerabatnya. Seandainya kita menerima bahwa ahlul bait takut terhadap para penguasa, maka siapakah yang ditakuti oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan kepada siapakah beliau pernah bertaqiyah? Padahal beliaulah yang tegak menentang kaum kafir Quraisy dan para pembesarnya. Beliau hadapi mereka, beliau selisihi agamanya serta beliau seru mereka untuk beribadah kepada Allah semata. Jadi mengaitkan taqiyah kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan keluarganya merupakan dusta yang sangat besar.
BEBERAPA KEYAKINAN ANEH SYI'AH
1. Ahlus Sunnah menurut Syi'ah adalah najis.
Berkata Ruhullah al-Musawi: "Sedangkan Nashib (Ahlus Sunnah) dan khawarij dilaknati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Keduanya adalah najis tanpa diragukan." (Tahriru al-Wasilah, I/118. Beirut).
Berkata Syaikh mereka al-Majlisi: "Nuh Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam membawa babi dan anjing dalam kapalnya dan tidak membawa anak zina. Dan nashib (Ahlus Sunnah) lebih jahat dari anak zina."
2. Harta dan darah Ahlus Sunnah di sisi Syi'ah
Berkata Muhammad bin Ali Babawaihi al-Qummi, dia meriwayatkan dari Daud al-Farqad: "Aku bertanya kepada Abu Abdullah 'Alaihissalaam : Bagaimana pendapat Anda tentang membunuh an-Nashib (Ahlus Sunnah)?" Ia menjawab: "Halal darahnya, akan tetapi lebih aman bila anda sanggup menimpuknya dengan tembok atau membenamkan ke dalam air supaya tidak ada saksi." Aku bertanya lagi: "Bagaimana dengan hartanya?" Ia menjawab: "Sikat saja semampumu." ('Ilal asy-Syara'I hal 601. Nejef).
3. Sikap Syi'ah terhadap empat Imam madzhab
Jika Syi'ah menampakkan penghormatannya terhadap keempat imam madzhab, maka itu hanya dalam rangka taqiyah. Muhammad Ridha ar-Ridhawi berkata : "Sekiranya pengaku-pengaku Islam dan Sunnah mencintai Ahlul Bait tersebut dan mereka tidak akan mengambil ketentuan-ketentuan hukum agama mereka dari orang-orang yang menyimpang, seperti Abu Hanifah, Syafi'i, Malik dan Ibnu Hambal." (Kadz-dzabu 'Alaa Syi'ah, hal. 279. Teheran).
4. Semua sanad dan riwayat Syi'ah pasti bertentangan dengan yang lain
Berkata as-Sayyid Dalhar Ali al-Ludnawi: "Hadits-hadits yang berasal dari para imam ini amat beragam. Hampir tidak dijumpai satu hadits pun melainkan ada lagi hadits lain yang menafikan. Dan hampir tidak ada kesepakatan
riwayat, kecuali terdapat riwayat lain yang bertentangan." (Asasu al-Ushul hal. 51. Lucknow-India).
5. Imam Mahdi Syi'ah memerintah dengan syari'at Daud, bukan syari'at Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam
Ash-Shadiq mengutip riwayat dari Abu Ja'far yang berkata: "Bila imam ghaib datang, ia akan memerintah dengan hukum Daud. Ia tidak meminta penjelasan."(Tarikh Ma Ba'da Dzuhur, hal. 728 & 810. Beirut).
Dalam kitab yang sama, berkata Ash-Shadiq: "Dunia tidak akan berakhir sebelum keluar seorang pria dari kalanganku yang akan memerintah dengan syari'at Daud."
6. Kekuasaan imamnya menyamai kekuasaan Allah
Abu Abdullah mengatakan: "Sesungguhnya Dunia dan Akhirat adalah milik imam. Ia letakkan dimana saja boleh sesuai kehendaknya dan diberikan kepada siapa saja menurut kehendaknya. Karena itu adalah merupakan mandat dari Allah." (Ushul al-Kaafi hal. 259 Bab al-Ardhu Kulluhu lil Imam).
7. Imam mereka mengetahui yang ghaib
Abu Abdullah berkata: "Sesungguhnya saya mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, dan saya mengetahui segala yang ada di surga dan apa yang ada di Neraka, dan saya mengetahui segala yang belum dan akan terjadi." (Ushul al Kaafi hal. 160).
8. Penghinaan terhadap Isteri-Isteri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam
Dalam kitab Haqqul Yaqin, Muhammad Baqir al-Majlisy hal. 519, disebutkan dalam bahasa Perancis yang terjemahannya adalah: "Dan aqidah kita (Syi'ah) adalah bebas dari empat berhala: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Mu'awiyah. Dan bebas dari empat berhala wanita: Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummul Hakam. Serta bebas pula dari pengikut dan pendukung mereka. Sesungguhnya mereka adalah sejelek-jelek makhluk ciptaan ALLAH dimuka bumi."
9. Penghinaan kepada para Khalifah selain Ali
al-Majlisi menyebutkan: "Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar keduanya adalah Fir'aun dan Haman." (Haqqul Yaqin hal. 367).
10. Menghalalkan meminjamkan tubuh wanita
Abu Ja'far Muhammad Ibnu Hasan At-Thusi menyebutkan dari Muhammad bin Muslim dari Abu Ja'far, ia berkata: Aku tanyakan kepadanya: "Halalkah laki-laki meminjamkan pada temannya tubuh puterinya untuk disetubuhi?" Jawabnya: "Boleh. Bahwa halal bagi dia sebagaimana halal bagi temannya meminjamkan kemaluan putrinya untuk disetubuhi." (Al-Istibshar Juz III hal. 136).
Muhammad Ibnu Mudharrib berkata: Berkata kepadaku Abu Abdullah: "Hai Muhammad, ambillah putri ini untuk melayanimu dan untuk kamu setubuhi. Maka bila kamu telah selesai menyetubuhinya, kembalikan dia kepadaku." (Al Istibshar Juz III hal. 136 dan dalam Furu'ul Kaafi hal. 200).
"Allaahumma! Ampunilah hamba dari terlalu banyak menulis ucapan-ucapan kotor
dan menjijikkan ini."
NIKAH MUT'AH DALAM SYI'AH
Setelah membaca kitab Syi'ah wa Ahlul Ba'it hal. 221-230 Ihsan Ilahi Zhahir, Syi'ah wal Mut'ah (seluruh isi kitab), Muhammad Maalullah; Tuhfatu al Itsna 'Asyariyyah hal. 227-230, dan lain-lain kitab, maka dapat dirinci nikah
mut'ah yang terjadi pada kaum Syi'ah, sebagai berikut:
1. Nikah yang bertempo atau kontrak dalam waktu tertentu dan telah disetujui oleh kedua belah pihak.
Misalnya satu bulankah, seminggu atau satu hari pun boleh, bahkan satu kali jima' pun jadi. Apabila waktu habis? Keduanya pun berpisah! Kecuali kalau keduanya setuju untuk menambah atau memperpanjang kontrakan.
Memang aneh tapi itulah yang terjadi pada kaum syi'ah dan mereka tidak bisa mengingkarinya kecuali bertaqiyah (berdusta untuk menutupi rahasia).
2. Dalam nikah ini, wali dan dua orang saksi tidak menjadi syarat sahnya nikah.
Jadi apabila seorang laki-laki menyatakan keinginannya kepada seorang perempuan yang akan dimut'ahnya dengan mahar sekian dan dalam waktu sekian, kemudian perempuan itu setuju, maka jadilah mereka mut'ah meskipun tanpa dihadiri oleh wali dan saksi, kecuali mereka berdua.
3. Dalam nikah mut'ah ini tidak ada thalaq.
4. Tidak ada 'iddah syar'i kecuali 'iddah yang dibuat-buat oleh kaum Syi'ah dan itu bukanlah suatu keharusan.
5. Tidak ada waris-mewarisi apabila salah seorangnya wafat.
6. Tidak ada kewajiban memberi nafkah.
7. Tidak ada batas jumlah perempuan yang bisa dimut'ah.
8. Seorang lak-laki boleh mut'ah dengan perempuan yang mana saja dan dari agama apa saja. Yahudi, Nashrani, Budha atau Hindu dan lain-lain agama sampai kepada yang tidak beragama. Khomeini, di dalam kitabnya Tahriru al-Wasilah dengan tegas memfatwakan kebolehan mut'ah dengan perempuan pelacur.
9. Boleh mut'ah dengan isteri orang secara sembunyi-sembunyi.
10. Diperbolehkannya menyetubuhi dubur isterinya atau wanita mut'ahnya yang kita namakan sebagai liwath. Inilah perbuatan yang mendapat laknat dari Allah dan Rasul-Nya.
11. Ada satu mut'ah yang mereka namakan dengan mut'ah dauriyyah (mut'ah jama'ah bergi-liran. Caranya: beberapa orang laki-laki (berjama'ah) mut'ah dengan seorang perempuan, kemudian mereka ikrar saling bergantian menyetubuhi perempuan tersebut.
Orang-orang Syi'ah tidak bisa mengingkari hal-hal ini karena semua itu dinukil dari kitab ulama-ulama mereka.
KEDUDUKAN MUT'AH DALAM AGAMA SYI'AH
Di dalam agama Syi'ah nikah mut'ah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan mulia. Ibadah yang paling afdhal dan seutama cara untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Mut'ah adalah rukun iman. Ibnu Babawaih meriwayatkan : Bahwa Abu Ja'far (Muhammad Baqir) pernah ditanya: Apakah orang mut'ah itu mendapat pahala? Jawabnya: Kalau ia melakukannya karena Allah Yang Maha Tinggi dan dalam rangka mengingkari orang yang menentang amalan ini, maka tidaklah ia berbicara satu kata dengan wanita mut'ahnya. Maka Allah akan menulis kebaikan pada setiap kata, dan tidaklah laki-laki yang mengulurkan tangannya kepada wanita yang hendak dimut'ah melainkan Allah akan menulis kebaikan baginya, dan bila ia mendekat kepada wanita mut'ahnya melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya, dan bila ia mandi junub setelah berhubungan badan dengan wanita mut'ahnya, Allah akan mengampuni dosanya sebanyak air yang mengalir lewat rambutnya. Aku bertanya: Sebanyak rambutnya? Jawabnya: Ya, sebanyak rambutnya. (Man laa Yadhurruhu Faqih Juz III hal 295).
Dan di antara penghinaan besar kaum syi'ah kepada Rasulullah ialah kebohongan-kebohongan mereka dalam membuat hadits-hadits palsu atas nama Nabi yang mulia, Sayyidu al-Anbiya' wal- Mursalin. Hadits-hadits palsu
yang telah dibuat oleh Syi'ah, baik atas nama beliau atau ahlul bait, jumlahnya banyak sekali, mencapai puluhan ribu lebih. Bahkan sampai ratusan ribu dalam seluruh kegiatan agama mereka, dan salah satunya adalah dalam
kawin mut'ah. Di antara hadits-hadits palsu yang mereka sandarkan atas nama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam tentang nikah mut'ah adalah: "Barangsiapa yang keluar dari dunia ini (wafat) dan ia belum melakukan mut'ah, niscaya ia akan datang pada hari kiamat dengan hidung yang terpotong."
Dalam hadits buatan mereka yang lain disebutkan: "Barangsiapa yang mut'ah sekali saja, niscaya dimerdekakan sepertiga dirinya dari api neraka. Dan barang siapa yang mut'ah sampai dua kali, niscaya dimerdekakan dua
pertiga dirinya dari api neraka. Dan barang siapa yang mut'ah tiga kali, niscaya dimerdekakan seluruh dirinya dari api neraka".
Hadits palsu yang lain menyebutkan: "Barangsiapa yang mut'ah satu kali saja derajatnya seperti derajat Husain. Dan barangsiapa yang mut'ah sampai dua kali derajatnya sama dengan Hasan. Dan barang siapa yang mut'ah sampai tiga kali derajatnya sama dengan derajat Ali bin Abi Thalib. Dan barang siapa yang mut'ah sampai empat kali, niscaya derajatnya seperti derajatku (Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam). (Baca Syi'ah wa
Ahlu al-Bait, hal 217-219 oleh Ihsan Ilahi Zhahir).
Kita bertanya kepada Syi'ah: "Bagaimana derajat orang yang mut'ah lebih dari empat kali?" Allahumma! Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu dari menukil riwayat-riwayat yang kufur ini. Ambil misal, umpamanya dalam satu bulan seorang wanita dapat dimut'ah oleh tiga puluh orang laki-laki kalau ditakdirkan setiap orang laki-laki mut'ahnya satu hari. Dan di dalam agama Syi'ah perbuatan di atas dibolehkan, bahkan semakin banyak mut'ahnya seseorang semakin tinggi derajatnya di sisi ALLAH. Lantas dengan cara apa kita membedakan perempuan-perempuan Shalihah dengan para pelacur! Dengan cara apa wahai kaum Rafidhah ?
"Maka terdiamlah (tidak bisa menjawab) orang yang kafir itu."
(al-Baqarah:258).
Para pembaca mungkin akan bertanya-tanya heran apa yang membuat syi'ah demikian beraninya berbohong atas nama ALLAH dan Rasul-Nya? Jawabnya: Bahwa agama Syi'ah dibina dan diciptakan atas dasar kebohongan
di atas kebohongan. Bohong adalah agama mereka sebagaimana mereka telah tegaskan: At-Taqiyah Dinunna ("Nifak adalah agama kami!"). Bohong merupakan syi'ar agama mereka! Tidak ada agama bagi mereka tanpa berbohong! (Baca kitab Syi'ah: Ushul al-Kaafi hal 484)
MUT'AH ADALAH ZINA
Dalil Pertama:
ALLAH Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang terjemahannya):
"Dan orang yang menjaga (farji) kemaluan mereka, kecuali kepada isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka dalam hal ini sesungguhnya mereka tidak tercela. Maka barangsiapa yang mencari selainnya
(yakni selain dari isteri atau budak), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (al-Mukminun: 5-7).
Dalil Kedua:
"Dan hendaklah orang-orang yang tidak/belum mampu menikah (tetap) menjaga kesucian (diri)nya (ta'affuf), sampai ALLAH mencukupi mereka dengan karunia-Nya." (an_Nur: 33).
Dalil ketiga: (Lihat QS: An-Nisa: 25)
Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam:
1. Dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu 'anhu, berkata: "Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam melarang kawin mut'ah dan makan daging Himar piaraan pada waktu perang Khaibar." (HR. Bukhari &
Muslim).
Ali radhiallahu 'anhu yang termasuk Ahlul Bait dan termasuk imam bagi kelompok Syi'ah telah meriwayatkan hadits yang menerangkan bahwa kawin mut'ah telah dilarang sejak perang Khaibar untuk selama-lamanya, maka
sangat tidak beralasan kalau kelompok Syi'ah justru mengingkari hadits yang telah diriwayatkan oleh imam mereka, dengan tetap bersikukuh atas bolehnya kawin mut'ah, padahal dengan tegas imam mereka meriwayatkan hadits atas pelarangan kawin kontrak tersebut.
2. Dari Ibnu Subrah al-Juhany berkata: Rasulullah bersabda: "Wahai manusia, sesungguhnya aku pernah mengizinkan kepadamu kawin mut'ah dan sesungguhnya ALLAH telah mengharamkannya sampai Hari Kiamat. Barangsiapa yang masih mempunyai mut'ah maka tinggalkanlah dan bila telah memberikan kontraknya janganlah diminta kembali sedikitpun." (HR. Muslim).
Dan masih banyak riwayat-riwayat shahih lainnya yang menjelaskan tentang pengharaman kawin mut'ah.
SEKILAS INFO
Ø Harian Terbit, Kamis 25 September 1997
KH. Irfan Zidny, MA yang mengaku satu guru satu ilmu dengan Ayatullah Khomeini memang layak untuk menyatakan kepedihan hatinya di hadapan sekitar 1000 peserta seminar sehari tentang Syi'ah di Aula Masjid Istiqlal Jakarta. Kiai jebolan Baghdad ini tidak dapat membendung deraian air matanya ketika memulai membeberkan kesesatan aliran Syi'ah dalam seminar Nasional tentang Syi'ah tersebut
Ø As-Sabiqunal Awwalun (ASA) Edisi V Th.II/1411 H.
Mahasiswi semester VII sebuah perguruan tinggi yang mengaku jurusan Sospol di Bandung, mengeluhkan rasa pedih pada bagian alat vitalnya, kemudian memeriksakannya kepada salah seorang Dokter Penyakit Kulit dan Kelamin bernama Dokter Hanung. Wanita asal Pekalongan yang tinggal di Bandung di sebuah rumah kos "Wisma Fathimah" Jl. Alex Kwilarang 63 itu telah dua kali memeriksakan penyakit yang dideritanya kepada dokter tersebut yang pada akhir kalinya ia tercengang mendengar keterangan dokter bahwa sesuai hasil penelitian laboratorium, semua menyokong diagnosis bahwa penyakit yang diderita wanita yang katanya sering mengikuti pengajian Jalaluddin Rahmat di Bandung itu menderita penyakit yang disebabkan karena terlalu sering berganti-ganti pasangan dalam berhubungan badan, atau yang lazim disebut penyakit yang diderita para pelacur. Mendengar keterangan dokter bahwa penyakit yang dideritanya adalah penyakit kotor yang memalukan dan mematikan, maka Mahasiswi yang berjilbab biru dan bercadar itu terkejut dan berteriak sambil berkata: "Tidak mungkin." (Halaman 44 s.d 47 berjudul : PASIEN TERAKHIR).
Inilah salah satu contoh akibat buruk dari kawin mut'ah yang telah mencemarkan citra wanita Muslimah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Ø REPUBLIKA, Selasa 26 Juli 1994 hal. 16
Iran merupakan negara basis dan produk Syi'ah. Negara dengan luas wilayah 1.648.000 Km2 dan jumlah penduduk 64.625.455 jiwa 98% memeluk agama Islam Syi'ah tersebut dipimpin oleh Rafsanjani, dia dipusingkan dengan lahirnya 250.000 bayi tanpa bapak akibat Kawin Mut'ah atau kawin kontrak. Iran merupakan negara Islam yang bebas dari segala bentuk pelacuran. Prianya berjubah, sementara wanita berjilbab dan bercadar. Namun yang mengagetkan adalah negara tersebut adalah termasuk sarang AIDS.
Pada tahun 1994 yang lalu di Republik Islam Iran sudah terdata 82 orang yang meninggal karena AIDS dan yang terserang AIDS sudah mencapai 5.000 orang. Itulah sebagian dari kerusakan nikah mut'ah agama Syi'ah,
pengikut-pengikut Abdullah bin Saba', sang penyebar fitnah dan kerusakan besar di dalam Islam dan kaum Muslimin. Hendaknya kaum Muslimin waspada dan hati-hati terhadap agama Syi'ah yang mengatasnamakan Islam ini. Dan kepada mereka yang tertipu oleh Jurus Taqiyah (berbohong untuk menyembunyikan rahasia) segeralah bertaubat kembali kepada Rabbul 'Alamin.
Inilah perkenalan kita dengan agama Syi'ah buatan kaum zindiq dan munafik, ajaran yang sesat dan menyesatkan dan menjadi shaf terdepan dari sekalian ajaran sesat dan kufur yang akan merusak Islam dan kaum Muslimin dari dalam.
Maraji'/bacaan :
1. Syi'ah Mut'ah dan Bahayanya Oleh Muhammad Sufyan Raji Abdullah, Lc
2. Majalah As-Sunnah, Edisi 16/Th. Ke-2
PERLU UNTUK DIWASPADAI !!!
Penerbit buku 'MIZAN'; Ikatan Pemuda Ahlul Bait Indonesia (IPAB); Ikatan Jama'ah Ahlul Bait Indonesia (IJABI); Pesantren dan Yayasan Al-Muthahari Bandung dengan Jalaluddin Rahmat-nya; Yayasan Al-Muntazhar Jakarta;
Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil; Yayasan Al-Jawwad Bandung; Yayasan Al-Muhibbin Probolinggo; Pesantren Al-Hadi Pekalongan; YAPISMA Malang; Yayasan Madinatul Ilmi Depok; Buletin Al-Tanwir; Buletin Al-Jawwad; Buletin Al-Ghadir; Majalah Al-Musthafa; Majalah Al-Hikmah; Majalah Al-Mawaddah; Majalah Yaum Al-Quds;. Mereka menyusup pula di surat kabar Republika, bahkan ke dalam organisasi massa besar seperti ICMI.
09:05 Posted in Sejarah | Permalink | Email this
Monday, 27 March 2006
Persekutuan Unik Ulama Banten
Judul : Arit dan Bulan Sabit (Pemberontakan Komunis 1926 di Banten)
Judul Asli : Sickle and Crescent: The Communist Revolt of 1926 in Banten
Penulis : Michael C. Williams
Pengantar : Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo
Penerbit : Syarikat Indonesia
Cetakan : Pertama, Maret 2003
Tebal : xii + 175) halaman termasuk indeks
PERBEDAAN ideologi antara agama dan komunisme, seperti bumi dan langit atau seperti siang dan malam. Komunisme dikenal ateis atau tidak mengimani Tuhan. Bagi penganut komunis berlaku paham Tuhan itu tidak ada kalau ia (seseorang) berpikir tidak ada. Tentu saja paham komunis ini berbeda sangat mendasar dengan dogma agama yang sangat memercayai dan mengesakan Tuhan. Oleh karena itu, mustahil sebuah pergerakan dapat dihuni oleh dua ideologi. Ini dibuktikan dengan mentalnya Semaun, Alimin, dan Darsono dari Sarekat Islam (SI).
Tetapi, uniknya, perbedaan dogmatis itu ternyata tak menghalangi para ulama di Banten untuk bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka kemudian memberontak terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada 1926. Pemberontakan sejenis juga serempak terjadi di Bandung, Padang Panjang, dan Kediri. Namun, penggerak pemberontakan di luar Banten dilakukan orang-orang pergerakan atau sekuler, bukan oleh ulama.
Persekutuan yang unik antara ulama Banten dan PKI saat itu direkatkan adanya musuh bersama. Kedua kelompok ini menganggap Pemerintahan Hindia Belanda adalah musuh bersama yang harus dienyahkan. Kesamaan tujuan ini menyebabkan kedua elemen bangsa yang berbeda ideologi itu selanjutnya bersimbiosa. Tetapi, secara spesifik ada beberapa hal yang menyebabkan ulama berkongsi dengan PKI.
Pertama, Belanda adalah kafir. Sebutan ini berkembang terutama di kalangan masyarakat Islam yang fanatik, termasuk pada sebagian para ulama. Orang-orang yang berada di luar agama Islam dianggap kafir sehingga "wajib" diperangi.
Kedua, dakwah ulama dibatasi. Pembatasan ini menyebabkan resistensi dari para ulama. Mereka gelisah karena materi dakwah dibatasi atau disensor. Mereka dilarang berbicara tentang jihad dan perjuangan revolusioner Nabi Muhammad. Padahal, bagi umat Islam tentu saja istilah jihad dan perjuangan Nabi adalah bagian yang tak terpisahkan dari risalah dan biografi Nabi sebab sepanjang hayat Muhammad adalah perjuangan yang tak pernah henti. Namun, sepertinya bagi pemerintah kolonial istilah jihad dan perjuangan revolusioner dinilai berbahaya bagi kelangsungan pemerintahan. Termasuk hingga kini, istilah jihad di kalangan Barat dianggap identik dengan kekerasan atas nama agama Islam.
Ketiga, akses politik ulama dibatasi. Ketidakadilan ini tentu saja membuat para ulama merasa teralienasi dan termarginalkan. Ini berbeda dengan bangsa Indonesia dari kalangan agama lain yang memiliki akses yang mudah untuk berpolitik atau masuk birokrasi. Nah, ketika PKI menempatkan para ulama dalam posisi strategis, para ulama merasa dihormati dan mendapat tempat.
Keempat, ulama kecewa kepada Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Kedua organisasi masa ini dinilai para ulama Banten terlalu lembek yang ditunjukan dengan lebih memilih berkompromi (kooperatif) dengan pemerintah Belanda.
Kekecewaan para ulama ini oleh tokoh-tokoh PKI dijadikan alat untuk kepentingan perjuangan mereka, khususnya untuk menggalang massa. Para agen propaganda PKI -- seperti Puradisastra asal Banjar Ciamis -- menyatakan para ulama tidak akan bebas beraktivitas selagi kaum kafir masih bercokol di Indonesia. Sebaliknya, bila komunis "sang pembela rakyat" berjaya, umat Islam akan dibebaskan. Bahkan, untuk memperkuat propaganda mereka, tokoh PKI yang berlatar agama kuat seperti Achmad Bassaif dan Hasanuddin selalu menyitir firman Allah untuk mendukung propagandanya. (hlm. 46).
Selain itu, untuk memperkuat argumennya, para tokoh ini juga dalam tablignya selalu mengaitkan perjuangan revolusioner PKI dengan merujuk peristiwa-peristiwa perjuangan heroik di negara-negara Islam, misalnya perjuangan rakyat Maroko di bawah Abdul Karim melawan pemerintah Spanyol dan Prancis. Bahkan, Lenin dan pejuang Bolshevik digambarkan sebagai para pembela Islam dan sebagai pendiri negara yang adil makmur yang diridai Allah. (hlm. 47).
Propaganda PKI ternyata tidak sia-sia. Ulama Banten yang cukup disegani seperti mantan Ketua SI Labuan Kiai Achmad Chatib, Kiai Alipan, dan Tubagus Hilman secara meyakinkan bergabung dengan PKI. Secara otomatis masuknya para kiai yang rata-rata memiliki pesantren ini juga disertai para santrinya. Dalam perkembangan selanjutnya, masuknya ulama karismatis membuat dukungan masyarakat Banten kepada PKI sangat masif. Anggota PKI yang sebelumnya terkonsentrasi di Serang belakangan menyebar ke Pandeglang dan Kabupaten Lebak.
Kelompok selain ulama yang direkrut PKI adalah para jawara atau bandit lokal. Para jawara ini menguasai pasar-pasar dan tempat pelelangan. Para jawara ini mampu memberikan perlindungan kepada seluruh wilayah pedesaan karena mereka dibekali keterampilan bela diri dan mahir memainkan golok serta parang. Para jawara juga aktif berperan dalam merekrut anggota PKI dari kalangan buruh di Batavia dan Sumatera. Keberanian dan kenekatan para jawara juga belakangan dimanfaatkan PKI dalam pemberontakan 1926. Kendati pada akhirnya pemberontakan itu gagal dan berujung pada penangkapan para ulama dan anggota PKI lainnya. Mereka ada yang dihukum mati, dipenjara, dan dibuang ke Boven Digul. (hlm. 53).
Membaca buku karya Michael C. Williams ini seperti menghadirkan potret dunia dan Indonesia masa kini. Buku ini bisa dipakai untuk membedah dan menelanjangi kasus-kasus aktual seperti terorisme yang melanda dunia dan Indonesia. Inti permasalahan sebenarnya aalah diskriminasi dan ketidakadilan. Bila marginalisasi sudah terakumulasi, pihak yang tertindas ini akan melakukan berbagai cara, termasuk bersekutu dengan kelompok yang berlainan ideologi. Bahkan, secara ekstrem, bersekutu dengan setan pun jadi.
Kasus terorisme dan radikalisme bila dilihat dari buku ini sebenarnya lahir karena adanya dominasi yang abadi dari sebuah negara, pemerintahan atau rezim. Misalnya, Amerika yang begitu digdaya sebagai negara adikuasa sangat diskriminatif dan menerapkan kebijakan politik luar negeri standar ganda dalam menyikapi persoalan yang berkaitan anatara negara-negra Islam dan Israel. Amerika selalu memihak Israel dan menjadi sekutu sejatinya di Timur Tengah. Diskriminasi inilah yang kemudian melahirkan terorisme yang berakhir dengan pengrusakan instalasi yang berbau Barat atau Amerika di mana pun letaknya, termasuk yang berada di Indonesia.
(Yayat R. Cipasang, Periset di Lembaga Kajian Media Massa dan Budaya di Bogor Jawa Barat)
08:59 Posted in Sejarah | Permalink | Email this

